Selasa, 20 Maret 2012

SISTEM KLIRING DAN PEMINDAHAN DANA ELEKTRONIK DI INDONESIA

PRINSIP KLIRING

INFORMASI PADA CHECK DAN  STRUKTUR  KODE MICR
SISTEM KLIRING ELEKTRONIK DI INDONESIA
           
Pengertian umum kliring adalah pertukaran warkat atau data keuangan elektronik antar bank baik atas nama Bank maupun nasabah yang hasil perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.  Penyelenggaraan kliring di Jakarta pada awalnya dilaksanakan secara manual. Namun dalam perkembangannya, sejalan dengan meningkatnya transaksi perekonomian nasional khususnya di Jakarta dimana pada akhir tahun 1989 volume warkat telah mencapai 82.052 lembar warkat perhari dengan jumlah bank peserta mencapai 613 bank. Hal ini menyebabkan penyelenggaraan kliring secara manual dirasakan tidak efektif dan efisien lagi dan suasana pertemuan kliring yang hiruk pikuk sering kali diibaratkan dengan suasana “pasar burung”.

Melihat kondisi tersebut, Direksi Bank Indonesia dengan SKBI No. 21/9/KEP/DIR tanggal 23 Mei 1988, kemudian menetapkan untuk mengubah sistem penyelenggaraan kliring lokal Jakarta dari sistem manual menjadi sistem otomasi kliring. Meskipun demikian baru pada tanggal 4 Juni 1990 sistem otomasi  dapat diimplementasikan untuk memproses kliring penyerahan. Sementara untuk proses kliring pengembalian tetap dilakukan secara manual, sampai kemudian pada tahun 1994 diganti dengan sistem semi otomasi yang kemudian dikenal dengan sebutan SOKL .

Pada tahun 1996 rata-rata volume warkat kliring Jakarta mencapai 216.911 lembar per hari, dengan pertumbuhahan rata-rata dalam tiga tahun sekitar 6%. Hal tersebut menyebabkan meningkatnya tekanan dalam kegiatan proses warkat kliring baik di bank peserta maupun di Bank Indonesia karena keterbatasan kemampuan sarana kliring yang ada dibandingkan dengan peningkatan jumlah warkat kliring. Pada gilirannya hambatan-hambatan tersebut menyebabkan terjadinya keterlambatan dalam settlement dan penyediaan informasi hasil kliring. Hal ini berpotensi mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap bank dan merugikan lembaga lain yang terkait serta menimbulkan efek negatif berantai (systemic risk)

Sehubungan dengan itu, sesuai acuan pokok pengembangan sistem pembayaran nasional (Blue Print Sistem Pembayaran Nasional Bank Indonesia;1995) yang antara lain memuat visi, kerangka kebijakan dan langkah-langkah yang perlu dikembangkan dalam menciptakan sistem pembayaran nasional yang lebih efektif, efisien, handal dan aman, maka pada tahun 1996 konsep penyelenggaraan kliring lokal secara elektronik dengan teknologi image mulai dikembangkan oleh Urusan Akunting dan Sistem Pembayaran Bank Indonesia. Pada tanggal 18 September 1998, Bank Indonesia mencatat sejarah baru dalam bidang sistem pembayaran dimana untuk pertama kalinya di Indonesia diresmikan penggunaan Sistem Kliring Elektronik (SKE) oleh Gubernur Bank Indonesia, DR. Syahril Sabirin. Penerapan SKE tersebut dilakukan pada Penyelenggaraan Klring Lokal Jakarta dimana pada awal implementasi, jumlah peserta yang ikut serta masih terbatas 7 bank peserta kliring (BRI, BDN, BII, BCA, Deutsche Bank, Standard Chartered, Citibank) dan 2 peserta intern dari Bank Indonesia (Bagian Akunting Thamrin dan Bagian Akunting Kota). Keikutsertaan kantor-kantor bank dalam Kliring Elektronik dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan teknis masing-masing peserta. Bagi kantorkantor bank yang belum menjadi anggota Kliring Elektronik, perhitungan kliring tetap menggunakan sistem kliring otomasi. Implementasi Kliring Elektronik secara menyeluruh kepada seluruh peserta kliring di Jakarta baru dilaksanakan pada tanggal 18 Juni 2001


A.  WARKAT

Warkat merupakan alat pembayaran bukan tunai yang diperhitungkan melalui kliring. Jenis warkat yang dapat diperhitungkan dalam kliring adalah :
1.              Cek;
2.              Bilyet Giro;
3.              Wesel Bank Untuk Transfer;
4.              Surat Bukti Penerimaan Transfer;
5.              Nota Debet; dan
6.              Nota Kredit.

B. DOKUMEN KLIRING

Dokumen kliring merupakan dokumen kontrol dan berfungsi sebagai alat bantu dalam proses perhitungan kliring yang terdiri dari :
1.              Bukti Penyerahan Warkat Debet – Kliring Penyerahan (BPWD);
2.              Bukti Penyerahan Warkat Kredit – Kliring Penyerahan (BPWK);
3.              Kartu Batch Warkat Debet;
4.              Kartu Batch warkat Kredit; dan
5.              Lembar Subsitusi.

Setiap warkat dan dokumen kliring yang digunakan wajib memenuhi spesifikasi teknis yang ditetapkan Bank Indonesia antara lain meliputi kualitas kertas, ukuran, dan rancang bangun. Setiap pembuatan dan pencetakan warkat dan dokumen kliring untuk pertama kali dan atau perubahannya oleh peserta wajib memperoleh persetujuan secara tertulis dari Bank Indonesia Dalam Kliring Elektronik, agar data pada warkat dan dokumen kliring dapat dibaca oleh mesin baca pilah yang ada di Penyelenggara maka warkat dan dokumen kliring tersebut wajib dicantumkan Magnetic Ink Character Recognition(MICR) code line. MICR adalah tinta magnetic khusus yang dicantumkan pada clear band yang merupakan informasi dalam bentuk angka dan simbol.

Dalam penyelenggaraan Kliring Lokal secara elektronik di Jakarta mencakup dua siklus kegiatan kliring
1.   Siklus Kliring Nominal Besar, terdiri dari :
a. Kliring Penyerahan Nominal Besar
b. Kliring Pengembalian Nominal Besar Kedua kegiatan kliring tersebut dilakukan pada hari yang sama.

2.   Siklus Kliring Ritel, terdiri dari :
a.         Kliring Penyerahan Ritel
b. Kliring Pengembalian Ritel Kedua kegiatan kliring tersebut dilakukan pada tanggal yang berbeda yaitu kegiatan kliring pada huruf b dilsakukan pada hari kerja berikutnya setelah kegiatan kliring pada huruf a dilaksanakan.
Keterangan :
−    Kliring penyerahan bagian pertama dari siklus kliring guna memperhitungkan warkat yang disampaikan oleh peserta.
−    Kliring Pengembalian merupakan bagian kedua dari suatu siklus kliring guna memperhitungkan warkat debet kliring penyerahan yang ditolak berdasarkan alasan yang ditetapkan dalam ketentuan Bank Indonesia atau karena tidak sesuai dengan tujuan dan persyaratan penerbitannya.


Dasar perhitungan dalam Kliring Elektonik adalah Data Keuangan Elektronik (DKE). Perhitungan hasil kliring tersebut akan tercermin dalam Bilyet Saldo Kliring yang dapat bersaldo kredit (menang kliring) atau bersaldo debet (kalah kliring) untuk dibukukan secara efektif langsung ke rekening giro masing-masing bank di Bank Indonesia tanpa memperhatikan kecukupan dana yang tersedia (netting settlement).
Apabila jumlah kekalahan kliring melampaui saldo rekeningnya di Bank Indonesia dan peserta tidak dapat menutupnya sampai dengan Bank Indonesia menutup sistem akunting, maka bank yang bersangkutan dinyatakan memiliki Saldo Giro Negatif. Apabila Saldo Giro Negatif tersebut tidak dapat ditutup sampai dengan pukul 09.00 WIB pada hari kerja berikutnya, peserta tersebut akan dikenakan sanksi penghentian sementara dari kliring lokal oleh Bank Indonesia.

KARAKTERISTIK SKE

Peserta

Berdasarkan jenis kepesertaan, hal ini dapat dibedakan menjadi 3, yaitu : 
1.     Peserta langsung Aktif (PLA), peserta yang mempunyai kewenangan untuk mengirimkan DKE ke Sistem Pusat Komputer Kliring Elektronik (SPKE) dan menyampaikan bundel warkat kepada penyelenggara serta menerima hasil perhitungan kliring dan warkat dari penyelenggara dengan menggunakan identitas peserta yang bersangkutan
2.     Peserta Langsung Pasif (PLP), peserta yang mempunyai kewenangan untuk mengirimkan DKE ke SPKE dan menyampaikan kewenangan untuk mengirimkan DKE ke SPKE dan menyampaikan bundel warkat kepada penyelenggara melalui dan menggunakan identitas PLA, tetapi dapat menerima hasil perhitungan kliring dan warkat dari penyelenggara dengan menggunakan identitas peserta yang bersangkutan
3.     Peserta Tidak Langsung (PTL) adalah peserta yang mempunyai kewenangan untuk mengirimkan DKE ke SPKE dan menyampaikan bundel warkat kepada penyelenggara melalui dan menggunakan identitas PLA, serta menerima hasil perhitungan kliring dan warkat dari penyelenggara dengan menggunakan identitas PLA atau PLP.

Sarana Ske

Peserta PLA wajib menyediakan sarana TPK yang terdiri dari :
1.              Perangkat lunak aplikasi TPK
2.              Perangkat lunak operation system
3.              Personal Computer (PC)
4.              Mesin reader encoder, atau mesin encoder
5.              Jaringan Komunikasi Data (JKD) cadangan (dial up)
6.              Sarana backup TPK


Kamis, 03 November 2011

Penipuan dan pengamanan komputer

1.  Penipuan dan pengamanan komputer 
       a.    Proses penipuan
       b.    Sebab – sebab terjadinya penipuan 
       c.    Penipuan komputer 
       d.    Mencegah dan mendeteksi penipuan komputer

a. Proses penipuan
     
PENIPUAN adalah Sesuatu atau segala sesuatu yang digunakan oleh seseorang untuk memperoleh keuntungan secara tidak adil terhadap orang lain, seperti kebohongan penyembunyian kebenaran, muslihat dan kelicikan, dan tindakan tersebut sering mencakup pelanggaran kepercayaan.
Pelaku penipuan disebut dengan penjahat berkerah putih (white collar criminals), untuk membedakannya dari penjahat yang melakukan kejahatan dengan kekerasan.
Penipuan internal terbagi menjadi 2 kategori :
1.    Penggelapan asset atau penipuan pegawai, dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang untuk keuntungan keuangan pribadi
2.    Penipuan pelaporan keuangan, tindakan yang sembrono atau disengaja, baik melalui tindakan atau penghilangan, yang menghasilkan laporan keuangan yang menyesatkan secara material.
Proses Penipuan
3 Karakteristik penipuan, yaitu :
     1. Pencurian sesuatu yang berharga
     2. Konversi asset yang dicuri ke dalam uang tunai
     3. Penyembunyian kejahatan untuk menghindari pendeteksian
 
b. Sebab-sebab terjadinya penipuan
-  Tekanan
Tekanan adalah motivasi untuk melakukan penipuan. Tekanan dapat berupa tekanan keuangan, seperti gaya hidup yang berada di luar kemampuan atau memiliki banyak utang atau biasanya banyak tagihan. Sering kali pelaku merasa tekanan-tekanan semacam ini tidak dapat dibagi dengan orang lain. Tekanan dapet juga berkaitan dengan pekerjaan. Beberapa pegawai mencuri data, sehingga mereka dapat membawanya ke pekerjaan baru mereka atau perusahaan tempat mereka bekerja. Motivasi lain yang mengarah pada tindakan curang adalah tekanan keluargaatau tekanan kerja, ketidakstabilan emosi, dan tunjangan menumbangkan system pengendalian serta masuk ke dalam system.

- Peluang
Peluang merupakan kondisi atau situasi yang memungkinkan seseorang melakukan dan menutupi suatu tindakan yang tidak jujur. Peluang sering berasal dari kurangnya pengendalian internal. Situasi lain yang mempermudah seseorang untuk melakukan penipuan adalah kepercayaan berebih atas pegawai utaa, personil supervisi yang tidak kompeten, tidak memperhatikan perincian, jumlah pegawai tidak memadai, kurangnya pelatihan, dan kebijakan perusahaan yang tidak jelas.


-  Rasionalisasi
banyak pelaku penipuan yang mempunyai alasan atau rasionalisasi yang membuat mereka merasa perilaku yang illegal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Mungkin, rasionalisasi yang paling umum adalah pelaku hanya “meminjam” asset yang dicuri karena mereke bermaksud untuk mengembalikannya pada perusahaan. Beberpaa pelaku membuat rasionalisasi bahwa mereka tidak menyakiti seseorang secara langsung. Pihak yang terpengaruh hanyalah system computer yang tidak bermuka dan bernama atau perusahaan besar yang bukanlah manusia yang tidak akan merasa kehilangan uang tersebut.


c. Penipuan komputer

penipuan komputer merupakan tindakan illegal.adapun yang membutuhkan pengetahuan teknologi computer untuk melakukan tindakan awal penipuan, penyelidikan, atau pelaksanaannya. Secara khusus,penipuan computer mencakup hal-hal berikut ini :
·  Pencurian, penggunaan, akses, modifikasi,penyalinan, dan perusakan software / data secara tidak sah.
·  Pencurian uang dengan mengubah catatan computer atau pencurian waktu computer.
·  Pencurian atau perusakan hardware computer.
·  Penggunaan atau konspirasi untuk menggunakan sumber daya computer dalam melakukan tindak pidana.
·  Keinginan secara illegal mendapatkan informasi atau property berwujud melalui penggunaan computer.


Peningkatan Penipuan Komputer
6 alasan yang tidak diketahui seorangpun dengan pasti bagaimana perusahaan kalah menghadapi penipuan computer :
1. Tidak semua orang setuju tentang hal-hal yang termasuk penipuan computer.

2. Banyak penipuan computer yang tidak terdeteksi. Pada suatu hari, FBI memperkirakan bahwa hanya 1       persen dari seluruh kejahatan computer yang terdeteksi, yang lainnya memperkirakan antara hingga 5 hingga 20 persen.
3. Sekiar 80 hingga 90 persen penipuan yang terungkap, tidak dilaporkan. Hanya industry perbankan yang disyaratkan oleh peraturan untuk melaporkan seluruh jenis penipuan.
4. Sebagian jaringan memliki tingkat keamanan yang rendah.
5. Banyak halaman dalam internet yang memeberikan instruksi per lngkah tentang bagaimana memulai kejahatan dan melakukan penyalahgunaan computer.
6. Penegakan hokum tidak mampu mengikuti pertumbuhan jumlah penipuan computer.
 

Klasifikasi Penipuan Komputer
·  Input
Cara yang umum dan sederhana untuk melakukan penipuan adalah dengan cara mengubah  input computer. Cara ini hanya memerlukan sedikit keterampilan computer.


·  Pemroses (processor)
Penipuan computer dapat dilakukan melalui penggunaan system tanpa diotorisasi, yang meliputi pencurian waktu dan jasa computer.


·  Perintah computer
Penipuan computer dapat dilakukan dengan cara merusak software yang memproses data perusahaan. Pendekatan penipuan computer dengan cara ini merupakan paling tidak umum, karena memerlukan pengetahuan khusus tentang pemrograman computer yang berada di luar kemampuan kebanyakan pemakai. Akan tetapi, saat ini, penipuan jenis ini menjadi lebih sering karena banyak halaman web yang memeberitahukan cara menciptakan virus dan cara penipuan berbasis computer lainnya.


·  Data
Penipuan computer dapat diawali dengan mengubah atau merusak file data perusahaan atau menyalin, menggunakan mencari file-file data tersebut tanpa otorisasi. Dalam banyak situasi, para pegawai yang merasa tidak puas telah mengacau, mangubah, atau menghancurkan file-file data perusahaan.

Penipuan dan Teknik Penyalahgunaan Komputer

·  Kuda Troya (Trojan Horse)
Sekumpulan perintah computer yang tidak sah yang masuk ke dalam program computer yang sah dan berfungsi dengan baik.


·  Pembulatan ke bawah
Teknik yangs erring digunakan padainstitusi keuangan yang membayar bunga.


·  Teknik salami
Sejumlah kecil uang yang dicuri.


·  Pintu jebakan
Cara masuk ke system tanpa melewati pengendalian system yang normal.


·  Serangan cepat
Penggunaan tidak secara tidak sah dari program system khusus untuk memotong pengendalian system regular dan melakukan tindakan yang illegal.
 

·  Pembajakan software
Menyalin software tanpa izin dari pembuatnya.


·  Mengacak data
Mengubah data sebelum, selama, atau setelah dimasukkan ke system.


·  Kebocoran data
Mengacu pada penyalinan tidak sah atas data perusahaan.


·  Menyusup
Menyadap masuk ke saluran telekomunikasi dan mengunci diri ke pemakai yang sah sebelum pemakai   tersebut memasuki suatu system.


·  Penyamaran atau penipuan
Pelaku penipuan mendapatkan akses ke system dengan cara berpura-pura sebagai pemakai yang   memiliki otorisasi.


·  Rekayasa social
Para pelaku menipu pegawai untuk memberikan informasi yang dibutuhkan agar dapat  masuk ke dalam system.


·  Bom waktu logika
Program yang sementara tetap diam hingga keadaan atau waktu tertentu yang telah ditentukan memicunya.


·  Hacking atau cracking
Akses ke dan penggunaan system computer secara tidak sah, biasanya dilakukan melalui computer pribadi dan jaringan telekomunikasi.



d. Mencegah dan mendeteksi penipuan komputer
1.     
             1. Membuat penipuan lebih jarang terjadi
a.     Menggunakan praktik mempekerjakan dan memecat pegawai yang semestinya 
b.    Mengatur para pegawai yang merasa tidak puas 
c.     Melatih para pegawai mengenai standar keamanan dan pencegahan terhadap penipuan
d.    Mengelola dan menelusuri lisensi software
e.     Meminta menandatangani perjanjian kerahasiaan kerja

2.    2. Meningkatkan kesulitan untuk melakukan penipuan

a.     Mengembangkan system pengendalian internal yang kuat
b.    Memisahkan tugas
c.     Meminta pegawai mengambil cuti dan melakukan rotasi pekerjaan
d.    Membatasi akses ke perlengkapan computer dan file data
e.     Mengenkripsi data dan program
f.      Mengamankan saluran telp
g.     Mengamankan system dari virus
h.    Mengendalikan data yang sensitive
i.       Mengendalikan computer laptop
j.       Mengawasi informasi hacker
3.    
       3. Memperbaiki Metode deteksi

a.     Sering melakukan audit
b.    Mempekerjakan pegawai khusus untuk keamanan computer
c.     Membuat saluran khusus untuk pengaduan penipuan
d.    Mempekerjakan konsultan computer
e.     Mengawasi kegiatan system
f.      Mempekerjakan akuntan forensic
g.     Menggunakan software pendeteksi penipuan
4.     
       4. Mengurangi Kerugian akibat penipuan

a.  Tetap menggunakan jaminan asuransi yang memadai
b. Menyimpan salinan cadangan program dan file data di dalam lokasi luar kantor yang aman
c.  Mengembangkan rencana kontijensi dalam hal kejadian penipuan
d.  Menggunakan software untuk mengawasi kegiatan system dan untuk memulihkan diri dari akibat penipuan

5.     5. Menuntut dan memenjarakan pelaku penipuan
1.    




    




Kamis, 27 Oktober 2011

Pesan Bung Karno tentang Pemilu

PEMILIHAN UMUM
Djangan mendjadi tempat pertempuran, perdjuangan kepartaian jang dapat memetjah persatuan bangsa INDONESIA.

Demikian bunyi salah satu poster Pesan Bung Karno kepada rakyat Indonesia tanpa kecuali dalam menghadapi Pemilu. Rakyat pemilih, maupun rakyat yang dipilih.
Bung Karno, satu-satunya Presiden Republik Indonesia yang secara konsisten berdiri di atas semua pihak. Saat ia terpilih menjadi Presiden, saat itu juga dia bukan lagi milik partai. PNI dan Partindo adalah dua partai yang pernah dibidani dan menjadi kendaraan politik Sukarno.
Akan tetapi, sebagai seorang Presiden, ia kemudian tidak lagi berpartai. Ia menaungi seluruh partai politik. Ia menjadi bapak bangsa. Ini yang tidak pernah ditiru oleh para penerusnya, baik Soeharto (Golkar), Habibie (Golkar), Gus Dur (PKB), Megawati (PDI-P), Susilo Bambang Yudhoyono (Partai Demokrat). Mereka tidak pernah melepaskan diri dari partainya, karenanya, tidak ada satu presiden pun (setelah Bung Karno) yang benar-benar berdiri di atas semua golongan, menjadi pengayom bagi seluruh rakyatnya.

Membaca Tanda Tangan “Soekarno”

Sekitar Tahun 1980an,Ragil Suwarna Pragolapati Sastrawan kelahiran Pati, Jawa Tengah, adalah seorang ahli membaca tanda tangan, atau biasa disebut grafolog.

Menurutnya tiga inti dari tanda tangan Sukarno.


Pertama, huruf “S” pada “Soekarno” ditulis dengan beberapa kali pengulangn tarikan, sehingga mengesankan ribet atau rumit. Ragil memaknai sebagai perjalanan Sukarno yang dimulai dari kondisi yang sangat rumit. Sejarah telah mencatat, bagaimana Sukarno hidup susah di waktu kecil dan remaja, dan hidup penuh tantangan pula di masa muda sebagai penggerak roda revolusi bangsa. Ia masuk-keluar penjara, ia dibuang dan diasingkan, dan kisah-kisah buruk yang melilit Sukarno pada fase awal.


Kedua, huruf-huruf selanjutnya pada tanda tangan Sukarno, terbaca gamblang, sehingga secara keseluruhan kita bisa baca sebagai nama dia. Ini adalah simbol Sukarno orang yang terbuka, jelas dan tegas langkahnya, lurus kepribadiannya, teguh pada prinsip dan sikap-sikap transparan lain. Dari beberapa literatur bisa kita ketahui, Sukarno lantang menentang penjajahan. Sekeluar dari penjara Sukamiskin, ia masih juga menyuarakan kemerdekaan. Tidak seorang pun bisa membuatnya diam.


Sekalipun, seorang awak kapal menawarinya kabur dari pembuangan dan berjuang di bawah tanah, sekali lagi, Bung Karno menolak. Ia berdalih, cara Sukarno bukan berjuang di bawah tanah. Ia muncul sebagai simbol yang mudah terbaca oleh seluruh rakyat Indonesia. Mudah terbaca, seperti tanda tangannya.


Ketiga,Ragil menunjuk tambahan pada tanda tangan berupa “titik” dan “garis sambung”. Ragil memaknai karier dan hidup Bung Karno akan berakhir tragis. Tiba-tiba. Mendadak. Habis. “Titik”. Akan tetapi, garis sambung di belakang titik adalah suatu makna, bahwa pada akhirnya, namanya akan kembali muncul, berkibar selama-lamanya di bumi Indonesia.


Point ketiga tadi terbukti pada kampanye 1999, belasan tahun kemudian sejak Ragil membacanya di Sanggar Teater Alam. Nama Bung Karno menjadi ikon pemersatu massa marhaen, poster dan gambar Bung Karno kembali berkibar menggelorakan memori bangsa, dan mengantarkan PDI Perjuangan pimpinan Megawati Soekarnoputri memenangi Pemilu, bahkan kemudian mengantar Megawati ke kursi kepresidenan. Meski akhirnya rakyat tahu, Megawati BUKAN Sukarno!

Tari Pendet, Malaysia, dan Bung Karno

Tari pendet yang begitu edi-peni, melantun di pura-pura Hindu Pulau Dewata, meliuk indah menyambut tetamu, dan melenggang energik menggugah gairah. Lama sekali ia terpendam menjadi khasanah budaya milik leluhur. Entah sejak berapa abad yang lalu. Ia telah menjadi tradisi, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu di Bali. Tari pendet, bukan saja tari yang disucikan di Bali. Tari pendet juga menjadi inspirasi utama para koreografer Pulau Seribu Pura dalam mencipta tari-tarian baru.
Singkat tutur, pendek ucap, tari pendet begitu lekat pada tradisi masyarakat Hindu Bali, melekat menjadi warisan budaya negeri adiluhung. Barangkali sama berartinya dengan tari bedoyo di lingkungan keraton Solo maupun Yogya, atau barangkali tak ubahnya seni tari lain yang mengalir dalam denyut nadi suku-suku bangsa di Tanah Air dari Sabang hingga Merauke sebagai sesuatu yang sakral. Sebagai sesuatu yang metaksu.
Akan halnya Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia, ternyata pernah pula bersinggungan dengan tari pendet. Kejadiannya tahun 1962, menjelang Indonesia menjadi tuan rumah pesta olah raga Asia, Asian Games IV. Guna memeriahkan ajang olahraga akbar tadi, I Wayan Beratha menancapkan tonggak sejarah dalam penciptaan tari pendet masal. Wayan Beratha berencana menampilkan tari pendet dengan 800 orang penari.
Bung Karno yang intens meneliti setiap persiapan Asian Games, mulai dari persiapan kelengkapan sarana stadion, hotel, hingga materi penyambutan, sangat senang dengan gagasan Beratha. Presiden Sukarno pula yang kemudian mendorong proses penciptaan tari pendet secara masal ini. Bahkan tidak berlebihan jika sejak momentum itu pula, tari pendet begitu dikenal di Indonesia, bahkan dunia, serta identik dengan tari selamat datang yang memukau karena keindahan gerak serta kecantikan para penarinya.
Bahkan jauh hari sebelum momentum 1962, Bung Karno sangat menyenangi tari Bali. Bukan saja karena ia berdarah Bali, tetapi Sukarno begitu membanggakan tari Bali kepada tamu-tamu manca negara. Tak heran jika tari Bali nyaris tak pernah absen ditampilkan dalam acara-acara kenegaraan, di samping tentu saja tari dan budaya Nusantara lain.


Kini, tari pendet diklaim Malaysia. Sebelumnya, negeri jiran itu juga mengklaim lagu “Rasa Sayang” serta kesenian Reog sebagai khasanah budaya mereka. Bahkan batik. Bahkan seni angklung. Entah yang mana lagi. Dalih tinggal dalih. Akan tetapi langkah klaim seperti itu, sejatinya sangat mengusik rasa nasionalisme kita sebagai bangsa. Lebih dari itu, klaim mereka tak lebih dari sebuah upaya (sengaja atau tidak disengaja) mengusik ketenangan hidup bertetangga.

Pantas saja kalau kita bertanya, mengapa mereka tidak bergabung saja dengan Indonesia? Sehingga tidak hanya lagu “rasa sayang”, reog, angklung, batik, dan pendet yang bisa mereka klaim. Masih ada jutaan ragam budaya yang begitu membanggakan di bumi khatulistiwa kita. Kecuali kalau yang mereka inginkan memang sebuah upaya melanggengkan perseteruan antarnegara serumpun. Sayangnya, presiden kita bukan Bung Karno.

Kelahiran Bung Karno, Disambut Letusan Gunung Kelud

Bayi Sukarno lahir menjelang matahari merekah. Karenanya, dia disebut pula sebagai Putra Sang Fajar. Orang Jawa memiliki kepercayaan, seseorang yang dilahirkan saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu. Terlebih, Bung Karno yang dilahirkan tahun 1901 (tanggal 6 Juni) terbilang putra perintis abad. Ya, abad ke-19, sebuah peradaban gelap yang masih menyelimuti bangsa kita dan sebagian besar belahan bumi lainnya oleh aksi imperialisme yang merajalela.

bung karno sungkem ibudndaKelahiran putra sang fajar, diyakini —setidaknya oleh Idayu, sang ibunda— bakal menjadi penerang bagi bangsanya. Letusan Gunung Kelud yang terjadi kala Sukarno lahir, makin menguatkan pratanda alam menyambut kehadirannya di atas jagat raya. Benar, gunung berapi yang puncaknya di atas ketinggian 1.731 di atas permukaan air laut itu, tiba-tiba saja bergolak setelah sekian lama tidak menunjukkan aktivitas vulkanik yang berarti.


Begitulah alam memberi tanda bagi lahirnya sang jabang bayi putra pasangan Raden Sukemi Sosrodihardjo dan Idayu ini. Siapa nyana, bayi merah yang dilahirkan bukan oleh dukun beranak, melainkan oleh seorang kakek yang masih kerabat ayahandanya itu, kelak akan berjuluk Pemimpin Besar Revolusi, Panglima Tertinggi, Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia yang pertama.


Dialah sang proklamator, yang membawa bangsa ini memasuki pintu gerbang kemerdekaan, setelah lebih 3,5 abad dijajah Belanda, dan 3,5 tahun dinista Jepang dengan bengisnya. Bung Karno sendiri menyimpan sebuah “restu” Ibunda, saat usia balita.


Dikisahkan, suatu subuh, menjelang matahari menyingsing, ibunda Sukarno bangun dan duduk di beranda rumahnya yang kecil, menghadap ke arah Timur. Udara pagi masih menggigit, embun pagi menyelimuti dedaunan. Sukarno yang terbangun, menyaksikan ibundanya duduk terpekur, diam tak bergerak menyongsong matahari pagi. Demi melihat ibuda di beranda seorang diri, Sukarno kecil mengayun langkah menghampirinya.


bersama ayahandaSang Idayu, demi melihat anaknya mendekat, diulurkannya kedua tangan dan direngkuhnya Sukarno kecil ke dalam pelukannya. Nah, di saat itulah ibunda Idayu melepas kata dengan nada lembut, “Engkau sedang memandangi fajar nak. Ibu katakan kepadamu, kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar menyingsing. Orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dahulu. Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan nak, bahwa engkau ini putra dari sang fajar.”


Tutur lembut sang ibu, dimaknai Bung Karno sebagai sebuah restu yang mengalir bersama darah Sukarno sepanjang hayat dikandung badan.


Bagaimana dengan makna angka yang serba enam yang mengiringi kelahirannya? Ya, Sukarno dalam satu kesempatan menuturkan ihwal kelahirannya pada tanggal enam bulan enam, berbintang gemini. Lambang kembar yang mengalirkan dua watak berlainan. Demikianlah Sukarno. Ia bisa lunak, dan bisa sangat cerewet. Bisa keras laksana baja, bisa lembut berirama. Ia meringkus musuh negara dan menjebloskannya ke balik jerajak besi, tetapi tak tega melihat seekor burung terkurung dalam sangkar. Ia memerintahkan prajurit membunuh musuh, tetapi tak tega menepuk nyamuk yang menggigit lengannya.


Dialah Sukarno, lahir dari seorang ibu kelahiran Bali dari kasta Brahmana, Idayu, keturunan bangsawan. Raja Singaraja yang terakhir, adalah paman ibundanya. Sedangkan ayah yang mengukir jiwa raganya, berasal dari Jawa bernama Raden Sukemi Sosrodihardjo. Dia berasal dari keturunan Sultan Kediri.


keludSekelumit kisah ini, kupersembahkan pada hari ini, 6 Juni 2009, sebagai wujud hormat saya kepadanya. Sebelum mem-publish, saya pejamkan mata, mengirim Al-Fatihah buat Sukarno bin Sukemi Sosrodihardjo. Sekali lagi, ini semata wujud hormat dan cinta saya kepada Bung Karno.


“Maaf Bung… di hari kelahiranmu ini, sejumput doa hanya sempat kulantunkan dari beranda rumah. Insya Allah, libur Lebaran nanti, aku akan berdoa di pusaramu…”.

Misteri Supersemar: Benarkah Soekarno Ditodong Untuk Tanda Tangan?

Pintu kamar Bung Karno diketuk pengawal. Ada  perwira Angkatan Darat yang ingin bertemu presiden. Mereka diutus oleh Suharto. Ada map merah muda di tangan salah seorang jendral. Di dalamnya berisi naskah yang mesti ditandatangani Sukarno.

Naskah itu tidak segera ditandatangani Sukarno. Dia sempat bertanya tentang mengapa kop surat itu dari Markas Besar Angkatan Darat. Seharusnya Surat Perintah itu ber-kop surat kepresidenan. Tapi pertanyaan Sukarno hanya dijawab Jendral Basuki Rachmat, “Untuk membahas, waktunya sangat sempit. Paduka tandatangani saja”.

Kesaksian ini dituturkan Sukardjo Wilardjito, mantan pengawal Presiden Sukarno.  Sesudah jatuhnya Sukarno, Sukardjo pernah dipenjara oleh rezim Orba selama 14 tahun tanpa proses pengadilan, termasuk menjalani beragam penyiksaan, disetrum puluhan kali dan dipaksa mengaku PKI.

                                     
Sukardjo Wilardjito

Sukardjo ini pernah mengejutkan orang dengan kesaksiannya yang bersikukuh menyatakan Basuki Rachmat dan Panggabean menodongkan pistol ke muka Sukarno karena bimbang menandatangani. Melihat itu, Sukardjo sebagai pengawal presiden secara refleks mencabut pistol untuk melindungi presiden. Namun meletakkan pistolnya kembali, karena Sukarno tidak ingin melihat pertumpahan darah. Surat yang akhirnya ditandatangani Sukarno itu dikenal kemudian dengan nama Supersemar. Surat Perintah Sebelas Maret. 

Sukardjo juga bersaksi bahwa yang menghadap Sukarno adalah empat jendral dan bukan tiga jendral seperti yang disebutkan selama ini. Keempat jendral utusan Suharto itu adalah M. Yusuf, M. Panggabean,  Amir Machmud dan Basuki Rachmat. Biarpun ada yang masih meragukan kesaksian Sukardjo itu, tapi dia tetap berpegang pada kesaksiannya itu. Kemudian malah menulis kesaksiannya di bukunya berjudul “Mereka Menodong Bung Karno”.



Kesaksian Sukardjo bahwa Sukarno ditodong, pernah dibantah M. Yusuf dan Panggabean sendiri. Kesaksian itu juga dibantah oleh A.M. Hanafi mantan Dubes RI di Kuba, dalam bukunya “Hanafi Menggugat”.  Sehingga kebenaran kesaksian Sukardjo itu masih perlu ditelusuri lagi. Benarkah demikian?

Ditodong atau tidak, rasanya Sukarno bukan orang yang mudah digertak. Bagaimanapun, apapun alasan Sukarno menandatangani naskah Supersemar, pada dasarnya kesaksian Sukardjo  itu  menggambarkan situasi yang tidak kompromistik. Situasi yang membuat Sukarno terjepit. Tak ada waktu bernegosiasi. Pokoknya teken sekarang! Ada bau konspirasi di balik itu.

Dan hasilnya adalah lahirnya Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar. Bung Karno menyebutnya dengan istilah SP Sebelas Maret. Sesudah menandatangani surat itu, Bung Karno masih sempat mengatakan, bahwa surat itu mesti dikoreksi kalau keadaan sudah pulih. Permintaan itu tidak pernah terwujud, karena ketika menandatangani surat itu, tanpa disadari Sukarno sedang menandatangani kejatuhannya.

Sesudah penandatanganan Supersemar, boleh dikatakan wahyu sebagai pemimpin seakan sudah tercabut dari Sukarno. Sebagai presiden, Sukarno sudah menandatangani ribuan surat. Tapi tandatangannya di surat yang satu ini, Supersemar, menjadi pedang yang menghunus kekuasaannya sendiri.

Kita tahu, Supersemar adalah surat mandat Sukarno pada Suharto untuk mengamankan negara  yang kacau akibat G30S PKI. Belakangan mandat Supersemar  ini ternyata dijadikan legitimasi untuk mengambil alih kekuasaan yang menyingkirkan Sukarno. Dengan Supersemar itu Suharto memperoleh surat sakti,  kemudian bergerak cepat meraih kursi presiden.

Bung Karno yang sadar bahwa Supersemar ternyata dimanipulasi, dalam pidatonya berteriak “Jangan jegal perintah saya! Jangan saya dikentuti!”. Ini ekspresi kemarahan Sukarno kepada orang-orang yang dianggapnya telah menipunya, melangkahinya dan membangkang perintahnya.



Menjelang kejatuhannya, Bung Karno mulai agak kehilangan kontrol diri. Itu tampak dari pidato-pidatonya yang emosional. Tampaknya Bung Karno mulai frustrasi. Dia sudah mulai merasa ditinggalkan dan dikhianati oleh orang-orang sekitarnya.

Salah satunya yang bikin Sukarno merasa dikentuti, seperti katanya, adalah Supersemar tadi. Bagaimana tidak? Bung Karno merasa Supersemar diplintir! Padahal Supersemar dimaksudkan Sukarno untuk memberi mandat pada Suharto agar segera memulihkan keamanan negara, bukan melengserkannya.

Kecurigaan Sukarno bahwa ada persekongkolan yang berniat  memanipulasi Supersemar,  tercermin dari pidatonya.  Ketika itu Bung Karno mulai melihat tanda-tanda Supersemar yang disebutnya SP 11 Maret  itu mulai “dimainkan” oleh Suharto. Karena itu Bung Karno menekankan berkali-kali, dirinya tidak bermaksud mengalihkan kekuasaannya pada Suharto.

Kata Bung Karno, “Dikiranya SP Sebelas Maret adalah surat penyerahan pemerintahan. Dikiranya SP  Sebelas Maret itu, suatu transfer of sovereignty. Transfer of authority”. Padahal TIDAK! SP Sebelas Maret adalah suatu perintah. SP  Sebelas Maret adalah suatu perintah pengamanan. Perintah pengamanan  jalannya pemerintahan. Pengamanan jalannya ini pemerintahan. Seperti kukatakan dalam pelantikan kabinet. Kecuali itu juga perintah pengamanan keselamatan pribadi Presiden. Perintah pengamanan wibawa Presiden. Perintah pengamanan ajaran Presiden. Perintah PENGAMANAN beberapa hal”.

Berdasarkan pidato Sukarno di atas, timbul kecurigaan orang. Mungkinkah Supersemar “sengaja” dinyatakan hilang? Betulkah naiknya Suharto sebagai presiden adalah inskonstitusional karena bertentangan dengan amanat Supersemar? Dan karenanya Supersemar mesti lenyap secara misterius? Apakah bisa dipercaya begitu saja bahwa dokumen negara sepenting itu bisa hilang?

Dua naskah Supersemar di Arsip Nasional disebutkan hanya fotocopy. Yang janggal, dua naskah itu tidak mirip karena diketik dengan spasi berbeda. Pertanyaannya, yang manakah di antara kedua naskah itu yang otentik? Atau apakah malah keduanya sama-sama tidak otentik?

"Maaf Gambarnya Keluar Area. Kalo tidak, maka tulisannya tidak akab bisa dibaca (Gusti)"

               
Naskah Supersemar yang diragukan keasliannya



Menurut kesaksian staf intel Komando Operasi Tertinggi Gabungan-5 (G-5 KOTI) Salim Thalib, naskah Supersemar yang dikenal sekarang adalah palsu. Selain aslinya tidak serapi itu, isi naskah juga tidak sama dengan naskah aslinya.

Jadi betulkah tuduhan beberapa kalangan yang menyamakan ini dengan usaha penghilangan barang bukti? Kalau memang Supersemar tidak diplintir, apa buktinya bahwa Supersemar itu tidak diplintir?

Sebetulnya kenapa Supersemar itu mesti dirancang dan Sukarno mesti dipaksa menandatangani? Ada banyak teori konspirasi rumit tentang ini. Tapi saya tertarik dengan teori berikut ini.
Latar belakangnya tak lepas dari persaingan antara PKI dan Angkatan Darat. Sebelum terjadinya G30S, persaingan antara PKI dan Angkatan Darat sudah dalam taraf saling jegal menjegal. Bahkan PKI sampai ingin membangun “Angkatan Kelima” dalam militer.

PKI ingin menggeser Angkatan Darat. Dan Angkatan Darat ingin menggeser PKI. Apalagi ketika itu Sukarno sudah mulai sakit-sakitan. Mungkin usianya tidak lama lagi.  Pokoknya siapa cepat, dia dapat. Antara PKI dan Angkatan Darat sudah betul-betul sikut-sikutan.

Begitu meletus konspirasi G30S, inilah kesempatan Angkatan Darat untuk menghancurkan saingan beratnya itu. Tak ada ampun, pokoknya PKI harus musnah. Dan penghancuran itu akan lebih afdol jika presiden sendiri yang mengumumkan pembubaran PKI. Soalnya yang punya hak untuk membubarkan partai politik cuma presiden. Itu adalah hak prerogatif presiden. Tapi tunggu punya tunggu, Sukarno kok belum mau juga membubarkan PKI. Bagaimana ini?




Angkatan Darat melalui tangan Suharto pun mengambil jalan pintas. Potong kompas. Caranya, harus dibuat sebuah  surat perintah yang telah terkonsep, yang membuat Angkatan Darat jadi punya alasan yuridis melibas PKI. Konsep surat itu pun dibuat.  Konsep Supersemar. Isinya perintah presiden kepada Angkatan Darat (Suharto) untuk mengamankan negara. Nah, dengan dalih mengamankan negara  inilah Angkatan Darat jadi punya alasan mengganyang habis PKI.  Angkatan Darat memang berlomba dengan waktu. Harus bergerak cepat. Kalau tidak, PKI bisa kembali bangkit mengumpulkan kekuatan dan mendepak jauh-jauh Angkatan Darat dari panggung kekuasaan. Now or never! Jadi sekarang Angkatan Darat tidak boleh kalah cepat!

Setelah itu Suharto memerintahkan para Jendral tadi untuk membawa surat itu kepada Sukarno. Dengan pesan khusus, “pokoknya harus ditandatangani Sukarno”.
Begitu Supersemar ditandatangani, itulah awal aksi pedang Orba. Nampaknya tanda tangan Sukarno tadi adalah pembuka jalan bagi pelaksana Supersemar untuk mengamankan yang bisa diamankan. Sesudah itu terjadi tragedi mengenaskan. Di segala pelosok negeri berkubang darah jutaan rakyat dengan alasan pembasmian PKI demi keamanan negara. Korbannya tidak saja PKI, tapi juga orang-orang yang tiba-tiba di-PKI-kan atau dipaksa mengaku PKI. Berjuta rakyat mendadak tak bermasa depan dan terampas haknya karena dicap PKI.

Tak kurang Sukarno sendiri turut menjadi korban. Sukarno mengatakan dia mengutuk sekeras-kerasnya Gestok (G30S PKI). Pelakunya harus dihukum, kalau perlu ditembak mati. Tapi orang yang memperuncing peristiwa G30S PKI, hingga terjadi provokasi membenarkan pembunuhan jutaan rakyat juga harus diadili. Apakah Sukarno bermaksud menujukan ini pada Suharto?
Yang jelas, sesudah pernyataan Sukarno itu, terjadi de-Sukarnoisasi.  Kita tahu bagaimana Sukarno diisolasi, dituduh terlibat G 30 S PKI tanpa bukti yuridis.

Tentu saja tuduhan itu aneh. Karena bagaimana mungkin Sukarno dituduh melakukan kudeta terhadap dirinya sendiri? Buntutnya, semua yang  berhubungan dengan Sukarno menjadi tabu dibicarakan di masa Orba. Bahkan beberapa departemen men-non-aktif-kan pegawai yang ketahuan pro-Sukarno.

Setelah skenario berjalan seperti harapan, “para perancang” Supersemar lalu mabuk kemenangan.  PKI yang dulu jadi saingan utamanya untuk merebut “kursi Sukarno” sudah tersungkur. Dan Sukarno sang pemilik kursi juga sudah dipaksa meninggalkan kursinya. Suharto tak menyia-nyiakan kesempatan. Kursi yang kosong tanpa pemilik itu harus diapakan lagi kalau bukan diduduki?


Dan ketika kursi Sukarno tadi diduduki Suharto, di situlah awal mula kasak kusuk politik tentang “penyelewengan Supersemar”. Apakah betul tuduhan bahwa ada permainan sistematis Amerika di balik semua ini?

Yang jelas, dengan diselewengkannya maksud Supersemar, yang paling berbahagia adalah Amerika. Karena itu berarti jatuhnya Sukarno. Akhirnya mimpi Amerika terkabul sudah.  Terang-terangan Amerika menyatakan jatuhnya Sukarno sebagai kemenangan Amerika. Presiden Richard Nixon menggambarkan kemenangan itu sebagai, “Hadiah terbesar dari Asia Tenggara”. Sudah jelas. Karena hadiah sesungguhnya terletak pada kekayaan alam Indonesia yang menanti untuk dikuras. Dan batu penghalang yang menghalang-halangi Amerika menguras alam Indonesia, yaitu Sukarno, sudah dibikin terjungkal. Inilah awal kemenangan Amerika yang sejak 10 tahun sebelumnya ingin menggulingkan Sukarno.

Bung Karno berhasil mengusir penjajahan Belanda. Tapi setelah itu Bung Karno ambruk oleh Amerika. Mungkin karena cara Amerika lebih cerdik. Soalnya Amerika tidak memegang gagang keris secara langsung untuk menikam Sukarno. Keris itu diserahkannya kepada rakyat Sukarno sendiri,  yang  menghujamkannya langsung ke presidennya sendiri, di antaranya melalui provokasi perebutan kekuasaan dan akhirnya menunggangi G30S.

Pasca G30S,  rakyat menjadi sangat takut dengan yang kekiri-kirian. Ini artinya Indonesia meninggalkan Rusia dan berpaling ke Amerika.

Dan setelah Supersemar dijadikan surat sakti untuk memberantas sisa-sisa G30S, lalu pemegang Supersemar diangkat menjadi presiden, Indonesia berubah haluan 180 derajat. Hampir semua jabatan vital dipegang oleh perwira Angkatan darat. Sehingga rakyat berbisik takut-takut dan bertanya siapa sebetulnya yang meng-kup Sukarno?


Di bawah pemerintahan yang hampir semuanya orang militer, rakyat Indonesia jadi  takut dan kapok dengan yang segala yang berbau kiri. Semua orang tiba-tiba saja beragama. Banyak orang tiba-tiba rajin ke mesjid dan ke gereja. Soalnya takut dituduh PKI. Sehingga kiblat Indonesia berganti ke Amerika, tidak lagi ke Blok Timur.  Rusia yang tadinya sahabat Indonesia sekarang menyingkir.  Amerika jingkrak-jingkrak! Soalnya mimpi mereka  untuk menancapkan kuku di Indonesia akhirnya terwujud.

Indonesia yang di bawah tanahnya banyak emas dan minyak itu akhirnya jatuh ke pelukan Amerika. Apa buktinya?

Kepentingan Amerika cuma satu. Pokoknya modal Amerika mesti masuk ke Indonesia. Hasilnya? Begitu pemegang Supersemar diangkat menjadi Presiden menggantikan Sukarno, maka produk undang-undang pertama yang digodok adalah RUU Penanaman Modal Asing Tahun 1967.
Setelah lahir UU Penanaman Modal Asing, sebut saja sumber daya alam mana di Indonesia yang sampai sekarang tidak dikuasai Amerika?


Sukarno telah ditumbangkan oleh Amerika.  Dan bagaimana pemangku Supersemar akhirnya lengser?
Ketika ayam jago yang dielus-elus tuannya tidak lagi berguna, maka ayam itu “di-kuali-kan” menjadi ayam sayur. Semua itu berawal ketika “kapitalisme Cendana” ternyata semakin me-raksasa nyaris mendesak kepentingan kapitalisme Amerika. Maka pemangku Supersemar pun akhirnya terdepak pula.

Di mana letak perbedaan kejatuhan Sukarno dan Suharto?  Sukarno memang dijatuhkan sesudah menandatangani Supersemar, tapi tak pernah jatuh ke pelukan Amerika. Sedangkan Suharto sudah jatuh sejak awal. Bahkan ketika dia baru saja mengirim utusannya untuk memaksa Sukarno menandatangani Supersemar, di saat itu Suharto telah jatuh ke pelukan Amerika.

Tidak ada kekuasaan yang abadi. Setiap saat kekuasaan bisa saja jatuh. Tapi ada satu hal yang tidak otomatis jatuh bersama kekuasaan. Yaitu kehormatan.

sumber : http://wahw33d.blogspot.com/2010/05/misteri-supersemar-benarkah-soekarno.html#ixzz1by9NBu35